Kadang yang terindah bukanlah yang terbaik. Yang sempurna tak selalu menjanjikan keindahan. Namun, jika kita bisa menerima kekurangan menjadi kelebihan itulah kesempurnaan yang sebenarnya. Seperti dia yang mencintaiku apa adanya. Seperti dia yang menyayangiku sepenuh hatinya. Meski aku tak tampan juga tak rupawan tapi dia selalu setia menungguku disana.
Walau kadang kala aku harus mengahadapi kenyataan tragis. Menangis saat rindu datang mengiris. Saat tak ada pilihan, aku hanya bisa sabar dan tegar. Keadaanlah yang memaksaku untuk kuat meski aku tak bisa. Karena aku tahu inilah long distance. Ketika jarak menjadi dinding penghalang, tak berarti cinta akan luruh. Justru dengan adanya dinding tersebut akan memicu rasa rindu yang menggebu dan candu untuk bisa kembali bersua. Maka aku hanya bisa menutup mata dan membayangkannya disini, disampingku.
”I just close my eyes and pretend you here”. Hanya kalimat itu yang selalu bergumam dalam ruang rinduku. Berharap dia datang menyentuh, memeluk, dan menciumku. Akhirnya, aku hanya bisa mengeja sepi dalam diri.
Tak hanya jarak yang menjadi godaan bagi kami. Tapi juga sering datang bidadari yang menghantuiku bahkan mengajaku untuk merajai hatinya. Namun aku tak sanggup jika harus mendua. Ketika hasrat mendua itu muncul, aku hanya bisa mengingat apa yang dia ucapkan padaku. “Jadilah pria sejati. Pria sejati bukanlah dia yang punya banyak wanita dalam hidupnya. Tetapi dia yang mampu menolak banyak wanita hanya demi seorang wanita yang dicintainya”. Kata-kata itulah yang mengingatkanku akan sucinya ikrar cinta kami.
Satu hal lagi yang membuatku semakin mencintainya yaitu kala dia berbicara padaku bahwa dia tidak butuh sosok yang sempurna tapi dia butuh sosok yang bisa membuat dirinya merasa sempurna dan itulah aku. Sungguh aku tersentak saat mendengar kata-kata itu. Seolah tak percaya tapi itulah fakta. Sejak saat itu aku mengerti bahwa seseorang yang istimewa bukan yang selalu di depan mata, bukan pula yang senantiasa di sisi kita, tapi dia yang setia di hati dan yang selalu mengingat kita dalam setiap doanya.
 |
| Cinta Dalam Jarak |
Aku telah membulatkan hati padamu. Semoga kaulah jawaban atas doaku pada-Nya dan kaulah wanita yang telah tertulis di lauhul mahfuzku. Aku mencintaimu hingga Tuhan yang memisahkan kita. Amin
(suck seed process)
Tasikmalaya, 30 November 2012
Diana Kertadisastra