Tentangmu: Ayah part. 2


***
Hari-hari tanpamu kulalui dengan biasa. Sedikitpun aku tak merasa kehilangan. Entahlah, mungkin karena kamu memang jarang ada di rumah. Sehingga aku tak bisa membedakan ada dan tiadanya dirimu. Sungguh tragis dan ironis. Aku adalah anak yang tak merasakan arti seorang ayah. Kenapa kamu tega membuatku seperti itu?
                Sementara ibuku masih larut dalam duka. Ia terlihat murung, pendiam, dan sering menangis. Akupun masih bingung kenapa dia harus menangis. Padahal kamu sering menyakitinya. Aneh. Kadang ia pergi ke pemakaman sekedar untuk melihat tempatmu beristirahat. Hal ini membuat aku dan saudara-saudaraku kebingungan mencarinya. Ini salahmu! Membuat ibuku menjadi begini.
                 Ingin rasanya aku berteriak lalu mencacimu yang telah membuat kami menderita seperti ini. Tapi semua hanya mimpi belaka. Andaikata kamu masih ada di alamku, mungkin aku tak akan berani karena aku takut diterkam amarahmu.
                Hendaknya seorang ayah bersikap baik pada anak-anaknya bukannya mencak-mencak memarahi dengan kata-kata yang kurang enak di benak. Tapi apa yang kamu lakukan? Kau sakiti hati ini dengan kata-katamu yang menusuk. Kau mengukirkan kebencian di hatiku. Lantas apakah aku salah jika membencimu?
                Sungguh aku tak mengerti, mengapa tuhan mengabulkan doaku. Tahukah kamu, kala aku menangis karena perlakuanmu padaku aku sering memanjatkan doa supaya tuhan mencabut nyawamu  dan yang paling tragis adalah ibu juga mendoakan hal yang sama dalam tangisnya. “Semoga tuhan cepat mencabut nyawamu”. Mungkin benar apa kata orang bahwa doa orang yang teraniaya cepat dikabulkan.   
                Hey apakah kamu tahu setelah kepergianmu ibu jarang masak makanan favoritmu: rendang, gulai, sambal honje dan bunganya. Ibu bilang ia tak punya cukup uang untuk membeli bahan-bahanya yang mahal. Kadang adik memohon untuk dimasakkan makanan favoritmu tapi ibu tak bisa, ibu hanya menangis sambil berkata “andai saja ayahmu masih ada nak..”
                Sejak saat itu kami jadi keluarga yang mendadak miskin. Ya, mungkin ini hanya sedikit shock karena secara tiba-tiba ibuku kehilangan tulang punggung keluarga. Hey!!! Kenapa kamu masih memberiikan masalah terhadap kami bahkan setelah kamu tidak ada?
***
Hari ini adalah hari pertama aku masuk Sekolah Menengah Pertama. Hiruk pikuk siswa-siswi bercampur aroma remaja puber yang khas – ketiak beraroma bawang. Bisa kulihat mereka masih mengenakan seragam SD-nya. Mereka masih terlihat culun walau tidak seculun diriku. Hey aku melihat sesuatu yang berbeda. Mereka didampingi oleh kedua orang tuanya. Aku? Seperti yang kau tahu, aku hanya berdua bersama ibu.
                Aku bisa merasakan tetesan air mata ibu di lenganku. Aku tak tahu mengapa ia menangis. Maka dengan polos aku bertanya padanya mengapa ibu menangis. Ia hanya menjawab “ingat ayahmu nak, dulu waktu kakakmu masuk SMP ia masih menemani ibu”.
                Hmm, saat itu juga aku mulai berpikir ada yang berbeda dengan hidupku. Baik psikologis maupun ekonomi. Aku mulai minder jika ada beberapa orang yang bertanya tentang dimana kamu bekerja. Aku hanya isa menjawab bahwa kamu bekerja ‘dibalik papan’, maksudnya adalah dibelakang peti. Maka orang-orang itu akan segera bersimpati padaku. “Aku kuat, aku benci kamu” kata-kata itu selalu aku sematkan agar aku tidak terbawa emosi untuk menjatuhkan air mata.
                Hari-hari bersama teman-temanku yang memang masih mempunyai ayah membuatku merasa rindu akan amarahmu. Aku rindu dijewer, aku rindu. Tapi aku masih belum bisa memaafkanmu yang telah membuat kami menderita sebelum dan setelah kamu pergi.
                Tahukah kamu, bahwa selepas kepergianmu kami sekeluarga hanya bisa makan nasi aking? Dan kamu tahu lauknya apa? Lauknya adalah kacang atom yang waktu itu harganya masih seratus rupiah saja. Ibu membelikan kami 5 bungkus yang kemudian ia bagikan sambil menahan air mata. Tega sekali kau!
                Aku yang tidak pernah rewel dengan semua makanan yang ada segera melahap katom-katom itu. Adik, apakah kau tahu apa yang ia lakukan? Ia hanya bisa menangis karena ia kurang suka dengan menu tersebut. Akhirnya ibu membujuknya supaya cepat memakan hidangan yang ada. Maka, ibupun menyuapi adik sambil menangis. Aku, aku juga menangis menahan  kepedihan  ini. Ya, kepedihan yang kau buat.



                “Hari ini tak ada uang nak, ibu tidak dapat pinjaman dari tetangga” ujar ibu padaku yang menyiratkan bahwa hari ini aku tak dapat bekal. Tahukah kamu bahwa untuk naik angkot saja perlu uang seribu untuk pp. Maka aku putuskan untuk berjalan kaki menuju sekolah itu. Jaraknya memang dekat jika ditempuh dengan angkot, hanya 10 menit jika naik angkot. Tapi saat aku mencoba menaklukan jalan meuju sekolah dengan menunggangi sepasang sepatu usangku terasa sangat lama. Hampir satu jam ditambah bonus pegal dikaki.
                Disekolah aku adalah orang yang sangat  minder. Mungkin karena kamu sering membuatku merasa takut sehingga aku menjadi begini. Aku yang pemalu sering menjadi bahan lelucon anak-anak. Bahkan banyak yang menghinaku, karena aku culun, karena aku jelek. Dampaknya, aku menjadi siswa yang sangat pemurung baik di sekolah maupun di rumah.
                Murung, merenung, bingung adalah tiga hal yang selalu aku alami. Mengapa aku begini? Jelas aku selalu menyalahkanmu. Lagi, lagi dan lagi.

(to be continued)
Diana Kertadisatra