***
Hari-hari tanpamu kulalui dengan biasa. Sedikitpun aku tak merasa
kehilangan. Entahlah, mungkin karena kamu memang jarang ada di rumah. Sehingga
aku tak bisa membedakan ada dan tiadanya dirimu. Sungguh tragis dan ironis. Aku
adalah anak yang tak merasakan arti seorang ayah. Kenapa kamu tega membuatku
seperti itu?
Sementara ibuku masih
larut dalam duka. Ia terlihat murung, pendiam, dan sering menangis. Akupun
masih bingung kenapa dia harus menangis. Padahal kamu sering menyakitinya.
Aneh. Kadang ia pergi ke pemakaman sekedar untuk melihat tempatmu beristirahat.
Hal ini membuat aku dan saudara-saudaraku kebingungan mencarinya. Ini salahmu!
Membuat ibuku menjadi begini.
Ingin rasanya aku berteriak lalu mencacimu
yang telah membuat kami menderita seperti ini. Tapi semua hanya mimpi belaka.
Andaikata kamu masih ada di alamku, mungkin aku tak akan berani karena aku
takut diterkam amarahmu.
Hendaknya seorang ayah
bersikap baik pada anak-anaknya bukannya mencak-mencak memarahi dengan
kata-kata yang kurang enak di benak. Tapi apa yang kamu lakukan? Kau sakiti
hati ini dengan kata-katamu yang menusuk. Kau mengukirkan kebencian di hatiku.
Lantas apakah aku salah jika membencimu?
Sungguh aku tak
mengerti, mengapa tuhan mengabulkan doaku. Tahukah kamu, kala aku menangis
karena perlakuanmu padaku aku sering memanjatkan doa supaya tuhan mencabut
nyawamu dan yang paling tragis adalah
ibu juga mendoakan hal yang sama dalam tangisnya. “Semoga tuhan cepat mencabut
nyawamu”. Mungkin benar apa kata orang bahwa doa orang yang teraniaya cepat
dikabulkan.
Hey apakah kamu tahu
setelah kepergianmu ibu jarang masak makanan favoritmu: rendang, gulai, sambal
honje dan bunganya. Ibu bilang ia tak punya cukup uang untuk membeli
bahan-bahanya yang mahal. Kadang adik memohon untuk dimasakkan makanan
favoritmu tapi ibu tak bisa, ibu hanya menangis sambil berkata “andai saja
ayahmu masih ada nak..”
Sejak saat itu kami
jadi keluarga yang mendadak miskin. Ya, mungkin ini hanya sedikit shock karena
secara tiba-tiba ibuku kehilangan
tulang punggung keluarga.
Hey!!! Kenapa kamu masih memberiikan masalah terhadap kami bahkan setelah kamu
tidak ada?
***
Hari ini adalah hari pertama aku masuk Sekolah Menengah Pertama. Hiruk pikuk
siswa-siswi bercampur aroma remaja puber yang khas – ketiak beraroma bawang. Bisa
kulihat mereka masih mengenakan seragam SD-nya. Mereka masih terlihat culun
walau tidak seculun diriku. Hey aku melihat sesuatu yang berbeda. Mereka didampingi
oleh kedua orang tuanya. Aku? Seperti yang kau tahu, aku hanya berdua bersama
ibu.
Aku bisa merasakan
tetesan air mata ibu di lenganku. Aku tak tahu mengapa ia menangis. Maka dengan
polos aku bertanya padanya mengapa ibu menangis. Ia hanya menjawab “ingat
ayahmu nak, dulu waktu kakakmu masuk SMP ia masih menemani ibu”.
Hmm, saat itu juga
aku mulai berpikir ada yang berbeda dengan hidupku. Baik psikologis maupun
ekonomi. Aku mulai minder jika ada beberapa orang yang bertanya tentang dimana kamu
bekerja. Aku hanya isa menjawab bahwa kamu bekerja ‘dibalik papan’, maksudnya
adalah dibelakang peti. Maka orang-orang itu akan segera bersimpati padaku. “Aku
kuat, aku benci kamu” kata-kata itu selalu aku sematkan agar aku tidak terbawa
emosi untuk menjatuhkan air mata.
Hari-hari bersama
teman-temanku yang memang masih mempunyai ayah membuatku merasa rindu akan
amarahmu. Aku rindu dijewer, aku rindu. Tapi aku masih belum bisa memaafkanmu
yang telah membuat kami menderita sebelum dan setelah kamu pergi.
Tahukah kamu, bahwa
selepas kepergianmu kami sekeluarga hanya bisa makan nasi aking? Dan kamu tahu
lauknya apa? Lauknya adalah kacang atom yang waktu itu harganya masih seratus
rupiah saja. Ibu membelikan kami 5 bungkus yang kemudian ia bagikan sambil
menahan air mata. Tega sekali kau!
Aku yang tidak
pernah rewel dengan semua makanan yang ada segera melahap katom-katom itu. Adik,
apakah kau tahu apa yang ia lakukan? Ia hanya bisa menangis karena ia kurang suka
dengan menu tersebut. Akhirnya ibu membujuknya supaya cepat memakan hidangan
yang ada. Maka, ibupun menyuapi adik sambil menangis. Aku, aku juga menangis
menahan kepedihan ini. Ya, kepedihan yang kau buat.
“Hari ini tak ada uang
nak, ibu tidak dapat pinjaman dari tetangga” ujar ibu padaku yang menyiratkan
bahwa hari ini aku tak dapat bekal. Tahukah kamu bahwa untuk naik angkot saja
perlu uang seribu untuk pp. Maka aku putuskan untuk berjalan kaki menuju
sekolah itu. Jaraknya memang dekat jika ditempuh dengan angkot, hanya 10 menit
jika naik angkot. Tapi saat aku mencoba menaklukan jalan meuju sekolah dengan
menunggangi sepasang sepatu usangku terasa sangat lama. Hampir satu jam
ditambah bonus pegal dikaki.
Disekolah aku adalah
orang yang sangat minder. Mungkin karena
kamu sering membuatku merasa takut sehingga aku menjadi begini. Aku yang pemalu
sering menjadi bahan lelucon anak-anak. Bahkan banyak yang menghinaku, karena
aku culun, karena aku jelek. Dampaknya, aku menjadi siswa yang sangat pemurung
baik di sekolah maupun di rumah.
Murung, merenung,
bingung adalah tiga hal yang selalu aku alami. Mengapa aku begini? Jelas aku
selalu menyalahkanmu. Lagi, lagi dan lagi.
(to be continued)
Diana Kertadisatra
(to be continued)
Diana Kertadisatra
