Tahukah kamu bahwa 9 tahun yang Aku sangat membencimu? Bahkan Aku tak mengharapkan kamu hadir dalam hidupku. itu semua karena Aku tak tahan dengan didikanmu yang sangat keras. terlalu otoriter, selalu memaksaku untuk menuruti setiap kata yang keluar dari mulutmu.
Aku masih ingat saat kau menjewerku karena tidak menuruti perintahmu untuk mengangkat jemuran.Rasanya telinga ini mau putus. Apakah kau tahu perasaanku? Aku sangat lelah setelah Aku beraktifitas. Aku baru datang tapi langsung kau suruh begitu saja. Apa kau tak mengerti? Aku butuh istirahat, Aku butuh kehangatan dalam sebuah sambutan. Seperti layaknya anak-anak lain yang kedatangannya disambut oleh orang tuanya.
Ketika itu Aku sedang berjalan. Aku melihat bibi ku berjalan dengan wajah yang gelisah. dia berkata padaku supaya sabar karena kau telah pergi untuk selamanya. Tahukah kamu perasaan apa yang Aku rasakan? mungkin orang lain akan menangis tersedu jika mendengar berita duka seperti itu. Lain halnya denganku. kebencianku padamu memmbuncah. Kepergianmu kusambut suka, Aku tersenyum penuh kemenangan. Tuhan mengabulkan doaku.
Setibanya dirumah Aku melihat ibuku menangis tersedu. Aku kasihan kepadanya. bukan karena dia ditinggal pergi olehmu tapi karena dia harus membentuk aliran-aliran sungai hangat dipipinya untukmu. Aku hanya diam tak berkomentar sambil melihat sekeliling. Ada pertanyaan yang begitu bergejolak dihatiku: dimankah jasad dirimu? Aku ingat akan profesimu sebagai kapten kapal di sebuah perusahaan Malaysia. Mungkin jasadmu masih disana. Hmm, Aku tak peduli sedikitpun. Toh dulu kamu sering menyiksaku.
Aku mendengar kabar bahwa jasadmu akan tiba dalam waktu satu minggu. Sementara ibuku menyusul jasadmu ke jakarta. Disana telah ada kedua pamanku yang telah mengurusi segala birokrasi yang ada. mereka sangat peduli padamu. Begitupun dengan ibuku yang selalu engkau marahi. Meski dia bilang kau tiada duanya.
Malam itu aku tunggu kehadiran jasadmu. Sembari tiduran Akuku melihati bintang malam yang indah. diantara para pelayat ada yang bertanya kepadaku kenapa Aku tidak tidur. padahal waktu telah menunjukan jam sebelas malam. Aku hanya berkata bahwa aku ingin melihat jasadmu. Tak lama kemudian suara sirine ambulan mengaung diheningnya malam. kulihat lampunya berkedip-kedip. Setelah itu aku melihat ibuku keluar histeris. Dia terisak-isak, matanya sembab. Mungkin sepanjang perjalanan ia mengais.
Aku meliahat sebuah peti hitam diboyong oleh petugas ambulan. Ternyata disanalah kamu berada. Terbujur kaku dengan luka di di tulang iga dan lutut yang jelas karena terlihat warna merah dikain kafan yang membalut tubuhmu. Luka itu mungkin karena benturan hebat setalah mobil taksi yang kau tumpangi diseruduk oleh sebuah mobil kontener. Saat itu ada seorang ajengan yang mempersilakan kakak sulungku untuk memastikan bahwa itu adalah benar jasadmu. Dengan penasaran Aku ikut serta dalam proses pengecekan tersebut. Aku melihat kau tersenyum damai dengan kumistebalmu.
Entah apa yang kurasakan, Ada sesuatu yang tiba-tiba menyusup dalam benakku. Membuatku ingin mengeluarkan air mata. tapi dengan cepat ku seka kedua pojok mataku seraya berkata dala hati "Aku benci kamu", Maka aku kembali kuat dan tak menangis.
Entah apa yang kurasakan, Ada sesuatu yang tiba-tiba menyusup dalam benakku. Membuatku ingin mengeluarkan air mata. tapi dengan cepat ku seka kedua pojok mataku seraya berkata dala hati "Aku benci kamu", Maka aku kembali kuat dan tak menangis.
Jam satu, akhirnya Aku melihat kau untuk terakhir kalinya. mereka menutup wajahmu yang sendu dengan tutup peti yang kelihatnnya berat. Para pelayat berbondong-bondong mengantarkanmu pergi keliang lahat. Sementara Aku memilih diam dirumah. Aku takut harus berjalan ke pemakaman dinihari seperti itu. Aku merasa puas kau telah musnah. lihat aku menang.
(to be continued)
Diana Kertadisastra
Tasikmalaya, 12-12-2012 10:49


0 Response to "Tentangmu: Ayah Part 1"
Post a Comment